Dalam sebuah doa yang kau lantukan dengan kasidah duka abadi. hingga malam datang, bulan mengajakmu bertamasya bersama mimpi-mimpi indahmu. mengelilingin kkota-kota sibuk penuh akan suara hiruk pikuk jalanan yang memasuki gang-gang gelap dan tenda-tenda remang yang menyeruak aroma parfum bercampur air selokan.
Angin menarik-narik rambutmu yang tergerai indah, seraya menghentikan langkah malam ini, untuk melihat wajah-wajah tak berdosa dalam bingkai foto.
Tapi kau harus tetap berjalan mengikuti derap bulan. demi hari esok dan demi harapan-harapan dan kau membiarkan kenangan masa lalu hilang bersama hentakan waktu. pepatah dan wasiat sulit kau biarkan mengambang menjadi angan-angan, karena zikir munajat di jalan takdir, maka semua jalan akan tetap sama menjadi angan-angan.
Aku berjalan bersama dengan kebaikan dan kau berjalan dengan keburukan. aku tak pernah tau, kenapa kau tak pernah mengisi tubuhmu yang mati? karna sesungguhnya kau terlahir dari kepedihan api dan bayangan. maka, jalan hidupmu penuh akan rintangan.

