Dua triwulan bagi kami; pejuang akhir tingkat menengah pertama, bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilalui. Berbagai badai rintangan sili berganti datang menghampiri tanpa permisi. Namun semua itu bukan alasan untuk menepi di tengah terpaan badai. Toh ini semua (harus) kita jalani bersama dengan riang gembira, demi secuil impian tinggi.
Perkara impian, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipermainkan, apalagi dijadikan pilihan. Inilah sebuah keharusan. Tidak semudah membalikan tangan memang, mengubah pilihan menjadi keharusan. Apalagi tidak didukung dengan frekuensi keseimbangan antara usaha dan doa. Mungkin acap kali akan mengundang perpisahan nan memilukan di akhir.
Untuk melanjutkan perjalanan impian merajut asa yang panjang ini. Ada kala nya kita rehat sejenak menghirup udara segar di tengah kalang-kabut hati dan logika yang sulit dipadukan.
Di pagi hari yang berseri, sambil di temani gerimis yang setia mengikuti jejak kaki ini melangkah puluhan kilometer di atas kabut tebal dan aroma belerang yang begitu menyengat. Di sinilah saya menemukan setitik kebahagian yang sudah lama hilang digerus arus teknologi yang pesat ini, sebuah keindah alam Indonesia yang membuat seluruh kecambuk hati hilang begitu saja.
19.15
Di tengah dingin nya udara, dengan lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Ku mulai melangkah meninggalkan kota tercinta, meninggalkan kota penuh kenangan, angan, dan tangisan. Dengan ucapan Bismilla, rangkainan gerbong mulai meninggalkan keraimaian hiruk-pikuk
kota dengan sebutan Kota Pelajar ini.