Senin, 30 Maret 2015

Ayam Goreng Kecap

Bahan :

  • ·         10 potong paha ayam
  • ·         1 sdm jahe parut
  • ·         ½ sdt merica
  • ·         1 sdt garam
  • ·        Minyak goreng secukupnya

Bahan membuat saos kecap :

  • ·         10 sdm kecap manis
  • ·         ½ sdt gula
  • ·         1 sdm bawang merah iris cincang
  • ·         2 sdm air jeruk nipis
  • ·         1 sdm minyak untuk menumis

Cara membuat :

  1. Batur ayam dengan jahe parut, merica, dan garam. Diamkan selama 30 menit.
  2. Panaskan minyak, goreng ayam sampai kuning kecoklatan tapi tidak terlalu kering.
  3. Tumis bawang merah hingga layu dan harum. Masukan kecap,garam, dan air jeruk.
  4. Masukan ayam yang sudah digoreng ke dalam tumisan bawang bombai kecap. Kecilkan api, aduk ayam dengan bumbu himgga tercampur.
  5.  Siap di hidangkan..

Sabtu, 17 Januari 2015

Rehat

Dua triwulan bagi kami; pejuang akhir tingkat menengah pertama, bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilalui. Berbagai badai rintangan sili berganti datang menghampiri tanpa permisi. Namun semua itu bukan alasan untuk menepi di tengah terpaan badai. Toh ini semua (harus) kita jalani bersama dengan riang gembira, demi secuil impian tinggi.

Perkara impian, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipermainkan, apalagi dijadikan pilihan. Inilah sebuah keharusan. Tidak semudah membalikan tangan memang, mengubah pilihan menjadi keharusan. Apalagi tidak didukung dengan frekuensi keseimbangan antara usaha dan doa. Mungkin acap kali akan mengundang perpisahan nan memilukan di akhir.

Untuk melanjutkan perjalanan impian merajut asa yang panjang ini. Ada kala nya kita rehat sejenak menghirup udara segar di tengah kalang-kabut hati dan logika yang sulit dipadukan.

Di pagi hari yang berseri, sambil di temani gerimis yang setia mengikuti jejak kaki ini melangkah puluhan kilometer di atas kabut tebal dan aroma belerang yang begitu menyengat. Di sinilah saya menemukan setitik kebahagian yang sudah lama hilang digerus arus teknologi yang pesat ini, sebuah keindah alam Indonesia yang membuat seluruh kecambuk hati hilang begitu saja.

 19.15

Di tengah dingin nya udara, dengan lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Ku mulai melangkah meninggalkan kota tercinta, meninggalkan kota penuh kenangan, angan, dan tangisan. Dengan ucapan Bismilla, rangkainan gerbong mulai meninggalkan keraimaian hiruk-pikuk
 kota dengan sebutan Kota Pelajar ini.


Selasa, 18 November 2014

Sepotong Mozaik

Semua berawal dari 3 hari di bulan ke lima, saat usiaku menuju satu setengah windu. Dimana seluruh raga, jiwa, dan tenaga selama enam tahun ku kerahkan demi sepotong impian masa depan.

Penantian Paling Gemilang

Setelah 30 hari penantian, membuat tidur pun tak nyaman, makan tak selera, dan kekhawatiran teramat dalam disetiap langkah. Akhirnya, di pagi hari itu, seorang wanita setengah baya tampak dengan muka sumringah memasuki satu ruangan dari 22 ruangan. Beliau berkata, “tak usah patah semangat, langkah kalian masih panjang. Perbaiki kekurangan itu dilangkah berikutnya.” Sepatah kata yang tak akan ku lupakan dari nya.

Saat yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Wanita tersebut mengucapkan beberapa digit angka penting penentu masa depan. Masih hafal betul, saat  itu beliau memanggil dari angka terbesar. Seketika seluruh ruangan  menjadi gempat gempita; pertumpahan air mata, kegembiraan, kesedihan.

Aku masih ingat betul, sesaat setelah menerima surat penentu masa depan itu aku menelfon Papa.
Senang rasanya melihat dia bangga dengan hasil tersebut, walaupun di sela-sela rasa bangga tersebut terselip rasa kecewa karena tak bisa masuk sekolah ternama saat itu. Namun rasa kecewa itu berhasil di luruhkan oleh kesempurnaan pelajaran perhitungan.

Perjuangan Belum Berakhir

Masih ada lebih dari 1000 langkah lagi untuk mewujudkan impian-impian lain. Namun, disini aku akan mengulas salah satu nya.

3 hari penentuan berikutnya pun menanti. Dengan senang hati, pagi itu aku bersama Papa melangkah ketempat baru; tempat yang kini ku kunjungi setiap pagi hingga siang. Begitu awam nya aku tentang tempat itu, akhirnya terjawab setelah bertemu banyak teman lama, tepatnya teman taman kanak-kanak.

Hari  penentuan akan dimana aku menimba ilmu selanjutnya pun tiba. Jantungku berpacu lebih keras dari biasanya, sampai-sampai makanan di meja makan tak sentuh dari pangi hingga malam menjelang. Pukul 14.00, tepat setelah shalat dzhuhur, hati ku mencelos menatap layar LCD. Rasa bahagia, senang, terharu tumpah ruah dalam satu detik itu.

Juli 2012

Dengan tampang polos memakai seragam putih merah, aku melangkahkan kaki mamasuki gerbang berwarna hijau kuning. Berkumpul bersama dua ratus lima siswa disebuah ruang besar, sebut saja aula. Saat itu, pembagian kelas dimulai dari kelas berabjad pertama hingga abjad ke enam. Namaku dipanggil pada saat seorang guru mengucap kelas berabjad ke empat. Rasa senang bercampur bayangan kekhawatiran menghinggapi hati. Namun rasa itu luruh saat keceriaan tiga puluh empat anak bersatu padu di kelas berabjad ke empat itu.

Dimana Semangat itu?

Lari kesana kesini di bawah terik matahari dan menyebrangi sungai dengan seutas tali, semua ku lakoni dengan semangat berapi-api. Namun ayang, sekarang itu semua hanya bisa diratapi. Kesibukan akan hal-hal lain telah berhasil mengalahkan semangat berapi-api. Mari dengan senang hati, bangkitkan semangat berapi-api itu menjadi sebuah kekuatan kita bersama untuk menempuh perjuangan terakhir pada jenjang ini. Mari hadapi berbagai ujian itu dengan kembali bersemangat demi membanggakan almamater tercinta.

Kamis, 31 Juli 2014

Teruntuk Kamu; Tuan Pencurah Kasih Sayang-Nya


Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sama seperti aku, sedalam apa aku menyembunyikan perasaan, akan muncul juga ke permukaan. Kebohongan tak kan pernah bisa bertahan meski mati-matian diusahakan untuk terus ditutup-tutupi kebenarannya. Apalagi soal "rasa" yang telah bersarang lebih dari satu lustrum.

Paranoid yang dulu ku pikir tak (mungkin) terjadi.

Paranoid akan kehilangan pasti akan datang seiring dengan berjalannya hubungan. Ku pikir (dulu) paranoid itu tak a.an ku rasakan. Karena  ku pikir aku akan mengakhiri semuanya denganmu. Namun sayang, Tuhan belum mengizinkan itu. Toh aku yakin, Tuhan memiliki rencana yang indah pada suatu saat nanti.

Kehilangan; satu kata yang membuat paranoid orang dalam menjalin hubungan. Memang benar semua akan kembali pada-Nya. Entah itu karena takdir atau maut yang dapat datang kapan pun dan kesiapa pun.



Ah, terlalu tinggi harapanku. Jauh melampaui batas Sang Kuasa.

Katamu, ketulusan cinta adalah mencintai seseorang yang tak sempurna dengan cara sempurna. Hmmm, berarti manusia banyak polah tingkah sepertiku masih dapat merasakan ketulusan cinta bukan? Apalagi dari seseorang yang kurang lebih satu windu telah mengisi hari-hari menjadi berseri.

Tak salah bukan jika aku menginginkan (lagi) kenyamanan dimanja olehmu? 

Wajar kan?

Saat ini hanya rapelan doa dan sujud ku pada-Mu yang paling mujarab.

Sudah hari ke-8 setelah semuanya berubah. Namun, ada satu rasa yang tidak akan (pernah) berubah; rindu. Semestinya aku membiarkan rindu itu pergi meninggalkanku begitu saja. Namun sayang, hati kecil ini tak bisa berbohong. Toh sepandai-pandainya ia berbohong pasti akan terbongkar jua. Seharusnya aku tak membiarkanmu berlalu lalang-kalang kabut, rindu.

Hanya dengan rapelan doa  setiap aku bersujud pada-Nya aku menitipkan mu, Rindu. Menyerahkan segalanya demi kebaikanmu.


310714~Jika kita memang berjodoh, pasti kita akan bertemu kembali. Untuk itu aku hanya titip rapelan doa setiap ku bersujud kepada-Nya.

Rabu, 19 Maret 2014

Mengangkasalah

Sayang,
Hari ini kamu berlaga
Maafkan ku tak bisa menemanimu
Namun, doa ku selalu menyertaimu

Apakah kau tau sayang?
Tempat diantara terbangun dan terjaga?
Tempat dimana aku masih mengingat impian dan mimpi?
Itulah tempat dimana aku selalu berfikir tentangmu

Sayang,
Kamu pria tangguh
Teriaklah lantang dengan mata berbintang
Yang punya sengat kumbang
Dan bentangan angan disemesta lengan



Mengangkasalah sayang, kan ku tunggu kau disini 




Yogyakarta, 04 Maret 2014
Saat Ulangan Tengah Semester PKn

Selasa, 30 April 2013

Bayangan

Dalam sebuah doa yang kau lantukan dengan kasidah duka abadi. hingga malam datang, bulan mengajakmu bertamasya bersama mimpi-mimpi indahmu. mengelilingin kkota-kota sibuk penuh akan suara hiruk pikuk jalanan yang memasuki gang-gang gelap dan tenda-tenda remang yang menyeruak aroma parfum bercampur air selokan.

Angin menarik-narik rambutmu yang tergerai indah, seraya menghentikan langkah malam ini, untuk melihat wajah-wajah tak berdosa dalam bingkai foto.

Tapi kau harus tetap berjalan mengikuti derap bulan. demi hari esok dan demi harapan-harapan dan kau membiarkan kenangan masa lalu hilang bersama hentakan waktu. pepatah dan wasiat sulit kau biarkan mengambang menjadi angan-angan, karena zikir munajat di jalan takdir, maka semua jalan akan tetap sama menjadi angan-angan.

Aku berjalan bersama dengan kebaikan dan kau berjalan dengan keburukan. aku tak pernah tau, kenapa kau tak pernah mengisi tubuhmu yang mati? karna sesungguhnya kau terlahir dari kepedihan api dan bayangan. maka, jalan hidupmu penuh akan rintangan.


Senin, 08 April 2013

Rindu yang tak berkesudahan ♥

Pada akhirnya, perjalanan panjang tak bisa memahamkan : tak ada seorang pun yang ku rindu, kecuali dirimu. Tak akan pernah bisa ku tuliskan alasan apa yang membuatku begitu merindukan mu. Namun, aku hanya bisa mengatakan bahwa dirimu lah yang paling sempurna dalam hidupku.

Tak jera! Dia gelitik cacian dan makian tentangku, untuk membuatku jatuh ke dalam jurang yang penuh akan kemunafikannya. Aku tak kan pernah jera. Aku percaya di dunia ini tidak hanya ada dia saja. Melainkan, masih ada kamu yang membuatku bangkit. Bangkit lagi, lagi, dan lagi dari bejananya yang membunuhku.

Sungguh beruntung! ada kamu yang menghadirkan sebuah potongan mozaik hidup dan sebuah kenangan dalam sebuah waktu yang menemaniku dalam rindu. Rindu yang tak pernah berkesudahan. Rindu yang tak akan pernah habis di telan masa. Dan rindu bersama mu lagi, mengukir kisah bersama indah nya alam.

Ini yang tertulis di wajahku saat ini : ada rindu untuk mu! Entah sudah berapa ratus peluk mu padaku. Mengeratkan rindu dan kenangan tentangmu dalam kemegahan perasaan. Tentangmu yang tak mampu ku tepikan, apalagi ku lupakan. Tentangmu yang setia ku jaga dan ku simpan rapi di sudut hati terdalam. Inilah yang tertulis di hatiku : aku menyanyangi mu kawan :D