Selasa, 18 November 2014

Sepotong Mozaik

Semua berawal dari 3 hari di bulan ke lima, saat usiaku menuju satu setengah windu. Dimana seluruh raga, jiwa, dan tenaga selama enam tahun ku kerahkan demi sepotong impian masa depan.

Penantian Paling Gemilang

Setelah 30 hari penantian, membuat tidur pun tak nyaman, makan tak selera, dan kekhawatiran teramat dalam disetiap langkah. Akhirnya, di pagi hari itu, seorang wanita setengah baya tampak dengan muka sumringah memasuki satu ruangan dari 22 ruangan. Beliau berkata, “tak usah patah semangat, langkah kalian masih panjang. Perbaiki kekurangan itu dilangkah berikutnya.” Sepatah kata yang tak akan ku lupakan dari nya.

Saat yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Wanita tersebut mengucapkan beberapa digit angka penting penentu masa depan. Masih hafal betul, saat  itu beliau memanggil dari angka terbesar. Seketika seluruh ruangan  menjadi gempat gempita; pertumpahan air mata, kegembiraan, kesedihan.

Aku masih ingat betul, sesaat setelah menerima surat penentu masa depan itu aku menelfon Papa.
Senang rasanya melihat dia bangga dengan hasil tersebut, walaupun di sela-sela rasa bangga tersebut terselip rasa kecewa karena tak bisa masuk sekolah ternama saat itu. Namun rasa kecewa itu berhasil di luruhkan oleh kesempurnaan pelajaran perhitungan.

Perjuangan Belum Berakhir

Masih ada lebih dari 1000 langkah lagi untuk mewujudkan impian-impian lain. Namun, disini aku akan mengulas salah satu nya.

3 hari penentuan berikutnya pun menanti. Dengan senang hati, pagi itu aku bersama Papa melangkah ketempat baru; tempat yang kini ku kunjungi setiap pagi hingga siang. Begitu awam nya aku tentang tempat itu, akhirnya terjawab setelah bertemu banyak teman lama, tepatnya teman taman kanak-kanak.

Hari  penentuan akan dimana aku menimba ilmu selanjutnya pun tiba. Jantungku berpacu lebih keras dari biasanya, sampai-sampai makanan di meja makan tak sentuh dari pangi hingga malam menjelang. Pukul 14.00, tepat setelah shalat dzhuhur, hati ku mencelos menatap layar LCD. Rasa bahagia, senang, terharu tumpah ruah dalam satu detik itu.

Juli 2012

Dengan tampang polos memakai seragam putih merah, aku melangkahkan kaki mamasuki gerbang berwarna hijau kuning. Berkumpul bersama dua ratus lima siswa disebuah ruang besar, sebut saja aula. Saat itu, pembagian kelas dimulai dari kelas berabjad pertama hingga abjad ke enam. Namaku dipanggil pada saat seorang guru mengucap kelas berabjad ke empat. Rasa senang bercampur bayangan kekhawatiran menghinggapi hati. Namun rasa itu luruh saat keceriaan tiga puluh empat anak bersatu padu di kelas berabjad ke empat itu.

Dimana Semangat itu?

Lari kesana kesini di bawah terik matahari dan menyebrangi sungai dengan seutas tali, semua ku lakoni dengan semangat berapi-api. Namun ayang, sekarang itu semua hanya bisa diratapi. Kesibukan akan hal-hal lain telah berhasil mengalahkan semangat berapi-api. Mari dengan senang hati, bangkitkan semangat berapi-api itu menjadi sebuah kekuatan kita bersama untuk menempuh perjuangan terakhir pada jenjang ini. Mari hadapi berbagai ujian itu dengan kembali bersemangat demi membanggakan almamater tercinta.

Kamis, 31 Juli 2014

Teruntuk Kamu; Tuan Pencurah Kasih Sayang-Nya


Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sama seperti aku, sedalam apa aku menyembunyikan perasaan, akan muncul juga ke permukaan. Kebohongan tak kan pernah bisa bertahan meski mati-matian diusahakan untuk terus ditutup-tutupi kebenarannya. Apalagi soal "rasa" yang telah bersarang lebih dari satu lustrum.

Paranoid yang dulu ku pikir tak (mungkin) terjadi.

Paranoid akan kehilangan pasti akan datang seiring dengan berjalannya hubungan. Ku pikir (dulu) paranoid itu tak a.an ku rasakan. Karena  ku pikir aku akan mengakhiri semuanya denganmu. Namun sayang, Tuhan belum mengizinkan itu. Toh aku yakin, Tuhan memiliki rencana yang indah pada suatu saat nanti.

Kehilangan; satu kata yang membuat paranoid orang dalam menjalin hubungan. Memang benar semua akan kembali pada-Nya. Entah itu karena takdir atau maut yang dapat datang kapan pun dan kesiapa pun.



Ah, terlalu tinggi harapanku. Jauh melampaui batas Sang Kuasa.

Katamu, ketulusan cinta adalah mencintai seseorang yang tak sempurna dengan cara sempurna. Hmmm, berarti manusia banyak polah tingkah sepertiku masih dapat merasakan ketulusan cinta bukan? Apalagi dari seseorang yang kurang lebih satu windu telah mengisi hari-hari menjadi berseri.

Tak salah bukan jika aku menginginkan (lagi) kenyamanan dimanja olehmu? 

Wajar kan?

Saat ini hanya rapelan doa dan sujud ku pada-Mu yang paling mujarab.

Sudah hari ke-8 setelah semuanya berubah. Namun, ada satu rasa yang tidak akan (pernah) berubah; rindu. Semestinya aku membiarkan rindu itu pergi meninggalkanku begitu saja. Namun sayang, hati kecil ini tak bisa berbohong. Toh sepandai-pandainya ia berbohong pasti akan terbongkar jua. Seharusnya aku tak membiarkanmu berlalu lalang-kalang kabut, rindu.

Hanya dengan rapelan doa  setiap aku bersujud pada-Nya aku menitipkan mu, Rindu. Menyerahkan segalanya demi kebaikanmu.


310714~Jika kita memang berjodoh, pasti kita akan bertemu kembali. Untuk itu aku hanya titip rapelan doa setiap ku bersujud kepada-Nya.

Rabu, 19 Maret 2014

Mengangkasalah

Sayang,
Hari ini kamu berlaga
Maafkan ku tak bisa menemanimu
Namun, doa ku selalu menyertaimu

Apakah kau tau sayang?
Tempat diantara terbangun dan terjaga?
Tempat dimana aku masih mengingat impian dan mimpi?
Itulah tempat dimana aku selalu berfikir tentangmu

Sayang,
Kamu pria tangguh
Teriaklah lantang dengan mata berbintang
Yang punya sengat kumbang
Dan bentangan angan disemesta lengan



Mengangkasalah sayang, kan ku tunggu kau disini 




Yogyakarta, 04 Maret 2014
Saat Ulangan Tengah Semester PKn