Semua berawal dari 3 hari di bulan ke lima, saat usiaku menuju satu setengah windu. Dimana seluruh raga, jiwa, dan tenaga selama enam tahun ku kerahkan demi sepotong impian masa depan.
Penantian Paling Gemilang
Setelah 30 hari penantian, membuat tidur pun tak nyaman, makan tak selera, dan kekhawatiran teramat dalam disetiap langkah. Akhirnya, di pagi hari itu, seorang wanita setengah baya tampak dengan muka sumringah memasuki satu ruangan dari 22 ruangan. Beliau berkata, “tak usah patah semangat, langkah kalian masih panjang. Perbaiki kekurangan itu dilangkah berikutnya.” Sepatah kata yang tak akan ku lupakan dari nya.
Saat yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Wanita tersebut mengucapkan beberapa digit angka penting penentu masa depan. Masih hafal betul, saat itu beliau memanggil dari angka terbesar. Seketika seluruh ruangan menjadi gempat gempita; pertumpahan air mata, kegembiraan, kesedihan.
Aku masih ingat betul, sesaat setelah menerima surat penentu masa depan itu aku menelfon Papa.
Senang rasanya melihat dia bangga dengan hasil tersebut, walaupun di sela-sela rasa bangga tersebut terselip rasa kecewa karena tak bisa masuk sekolah ternama saat itu. Namun rasa kecewa itu berhasil di luruhkan oleh kesempurnaan pelajaran perhitungan.
Perjuangan Belum Berakhir
Masih ada lebih dari 1000 langkah lagi untuk mewujudkan impian-impian lain. Namun, disini aku akan mengulas salah satu nya.
3 hari penentuan berikutnya pun menanti. Dengan senang hati, pagi itu aku bersama Papa melangkah ketempat baru; tempat yang kini ku kunjungi setiap pagi hingga siang. Begitu awam nya aku tentang tempat itu, akhirnya terjawab setelah bertemu banyak teman lama, tepatnya teman taman kanak-kanak.
Hari penentuan akan dimana aku menimba ilmu selanjutnya pun tiba. Jantungku berpacu lebih keras dari biasanya, sampai-sampai makanan di meja makan tak sentuh dari pangi hingga malam menjelang. Pukul 14.00, tepat setelah shalat dzhuhur, hati ku mencelos menatap layar LCD. Rasa bahagia, senang, terharu tumpah ruah dalam satu detik itu.
Juli 2012
Dengan tampang polos memakai seragam putih merah, aku melangkahkan kaki mamasuki gerbang berwarna hijau kuning. Berkumpul bersama dua ratus lima siswa disebuah ruang besar, sebut saja aula. Saat itu, pembagian kelas dimulai dari kelas berabjad pertama hingga abjad ke enam. Namaku dipanggil pada saat seorang guru mengucap kelas berabjad ke empat. Rasa senang bercampur bayangan kekhawatiran menghinggapi hati. Namun rasa itu luruh saat keceriaan tiga puluh empat anak bersatu padu di kelas berabjad ke empat itu.
Penantian Paling Gemilang
Setelah 30 hari penantian, membuat tidur pun tak nyaman, makan tak selera, dan kekhawatiran teramat dalam disetiap langkah. Akhirnya, di pagi hari itu, seorang wanita setengah baya tampak dengan muka sumringah memasuki satu ruangan dari 22 ruangan. Beliau berkata, “tak usah patah semangat, langkah kalian masih panjang. Perbaiki kekurangan itu dilangkah berikutnya.” Sepatah kata yang tak akan ku lupakan dari nya.
Saat yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Wanita tersebut mengucapkan beberapa digit angka penting penentu masa depan. Masih hafal betul, saat itu beliau memanggil dari angka terbesar. Seketika seluruh ruangan menjadi gempat gempita; pertumpahan air mata, kegembiraan, kesedihan.
Aku masih ingat betul, sesaat setelah menerima surat penentu masa depan itu aku menelfon Papa.
Senang rasanya melihat dia bangga dengan hasil tersebut, walaupun di sela-sela rasa bangga tersebut terselip rasa kecewa karena tak bisa masuk sekolah ternama saat itu. Namun rasa kecewa itu berhasil di luruhkan oleh kesempurnaan pelajaran perhitungan.
Perjuangan Belum Berakhir
Masih ada lebih dari 1000 langkah lagi untuk mewujudkan impian-impian lain. Namun, disini aku akan mengulas salah satu nya.
3 hari penentuan berikutnya pun menanti. Dengan senang hati, pagi itu aku bersama Papa melangkah ketempat baru; tempat yang kini ku kunjungi setiap pagi hingga siang. Begitu awam nya aku tentang tempat itu, akhirnya terjawab setelah bertemu banyak teman lama, tepatnya teman taman kanak-kanak.
Hari penentuan akan dimana aku menimba ilmu selanjutnya pun tiba. Jantungku berpacu lebih keras dari biasanya, sampai-sampai makanan di meja makan tak sentuh dari pangi hingga malam menjelang. Pukul 14.00, tepat setelah shalat dzhuhur, hati ku mencelos menatap layar LCD. Rasa bahagia, senang, terharu tumpah ruah dalam satu detik itu.
Juli 2012
Dengan tampang polos memakai seragam putih merah, aku melangkahkan kaki mamasuki gerbang berwarna hijau kuning. Berkumpul bersama dua ratus lima siswa disebuah ruang besar, sebut saja aula. Saat itu, pembagian kelas dimulai dari kelas berabjad pertama hingga abjad ke enam. Namaku dipanggil pada saat seorang guru mengucap kelas berabjad ke empat. Rasa senang bercampur bayangan kekhawatiran menghinggapi hati. Namun rasa itu luruh saat keceriaan tiga puluh empat anak bersatu padu di kelas berabjad ke empat itu.
Dimana Semangat itu?
Lari kesana kesini di bawah terik matahari dan menyebrangi sungai dengan seutas tali, semua ku lakoni dengan semangat berapi-api. Namun ayang, sekarang itu semua hanya bisa diratapi. Kesibukan akan hal-hal lain telah berhasil mengalahkan semangat berapi-api. Mari dengan senang hati, bangkitkan semangat berapi-api itu menjadi sebuah kekuatan kita bersama untuk menempuh perjuangan terakhir pada jenjang ini. Mari hadapi berbagai ujian itu dengan kembali bersemangat demi membanggakan almamater tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar